Jumat, 28 Desember 2012

ETIKA DAN MORAL DALAM PRAKTEK KEBIDANAN


PENDAHULUAN

Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala bidang  serta meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap meningkatnya  tuntutan masyarakat akan  mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan atau kebidanan. Hal ini merupakan tantangan  bagi profesi keperawatan dan kebidanan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberi pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan yang tinggi  memerlukan  landasan komitmen yang kuat  dengan basis pada etik dan moral yang tinggi.
Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap  perawat atau bidan akan tercermin dalam setiap langkahnya, termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon  situasi yang muncul. Oleh karena itu  pemahaman  yang mendalam tentang etika dan moral  serta penerapannya menjadi bagian yang sangat penting dan mendasar  dalam memberikan  asuhan keperawatan atau kebidanan  dimana  nilai-nilai pasen  selalu  menjadi pertimbangan  dan  dihormati.

ETIKA, MORAL DAN NILAI-NILAI
 

Pengertian:
                                                                                  
§  Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis  tentang perilaku benar atau salah, kebajikan  atau  kejahatan   yang berhubungan dengan perilaku.

Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang  filosofi moral kedalam   situasi nyata dan berfokus  pada  prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai  yang dianutnya. Banyak pihak  yang menggunakan  istilah etik  untuk mengambarkan  etika  suatu profesi dalam hubungannya dengan kode etik profesional seperti  Kode Etik PPNI atau IBI.
§  Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan terhadap    suatu standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang. Sistem nilai  dalam suatu organisasi adalah rentang  nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan  sebagai  perilaku personal.

§  Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan praktek profesional

NILAI-NILAI  ESENSIAL DALAM PROFESI

Pada tahun 1985, “The American Association  Colleges of Nursing”  melaksanakan suatu proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi nilai-nilai esensial dalam praktek keperawatan profesional.  Perkumpulan ini  mengidentifikasikan 7 nilai-nilai esensial dalam kehidupan profesional, yaitu:
1.          Aesthetics (keindahan): Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang memberikan kepuasan  termasuk penghargaan,  kreatifitas, imajinasi, sensitifitas  dan kepedulian.
2.          Altruism (mengutamakan orang lain):  Kesediaan memperhatikan  kesejahteraan orang lain  termasuk keperawatan atau kebidanan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati  serta ketekunan.
3.          Equality (kesetaraan): Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan  dengan sikap asertif, kejujuran, harga diri dan toleransi
4.          Freedom (Kebebasan): memiliki kapasitas untuk memilih  kegiatan termasuk percaya diri,  harapan, disiplin  serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri.
5.          Human dignity (Martabat manusia):  Berhubungan dengan penghargaan yang lekat terhadap martabat manusia sebagai individu termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan, pertimbangan dan penghargaan penuh  terhadap kepercayaan. 
1.          Justice (Keadilan): Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal termasuk
objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.
2.          Truth (Kebenaran): Menerima kenyataan dan realita, termasuk akontabilitas, kejujuran, keunikan dan reflektifitas yang  rasional.

PENGEMBANGAN DAN TRANSMISI NILAI-NILAI
     
Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya  sepanjang perjalanan hidupnya.  Mereka belajar dari keseharian dan menentukan tentang nilai-nilai mana yang benar  dan mana yang salah. Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi  dimana mereka tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai  cara antara lain: (1) Model atau contoh, dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi  perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul; (2) Moralitas diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan  nilai-nilai yang berbeda;  (3) Sesuka hati adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai  ini kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka  sendiri.  Hal ini  lebih  sering  disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau  tidak  adanya bimbingan atau pembinaan sehingga  dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi individu tersebut; (4) Penghargaan dan Sanksi; Perlakuan yang biasa diterima seperti:  mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan  perilaku yang tidak baik; (5) Tanggung jawab untuk memilih; adanya  dorongan internal untuk menggali  nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang yang akan menyempurnakan  perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.


KLARIFIKASI  NILAI-NILAI  (VALUES)

Klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana seseorang dapat mengerti  sistem nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan proses yang memungkinkan seseorang menemukan sistem  perilakunya sendiri melalui  perasaan dan analisis yang dipilihnya dan muncul alternatif-alternatif, apakah pilihan–pilihan ini yang sudah dianalisis secara rasional atau merupakan hasil dari  suatu kondisi sebelumnya (Steele&Harmon, 1983). Klarifikasi nilai-nilai mempunyai manfaat yang sangat besar didalam aplikasi  keperawatan dan kebidanan. Ada tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai individu yang perlu dipahami oleh perawat dan bidan.

Pilihan: (1) Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan bagi setiap individu; (2) Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada perbedaan-perbedaan, asuhan yang diberikan bukan hanya  karena  martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan yang diberikan mempertimbangkan sebagaimana kita ingin diperlakukan. (3) Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan konsekuensi terbaik bagi semua masyarakat.

Penghargaan: (1) Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya  sendiri (anda akan merasa senang bila mengetahui bahwa asuhan yang anda berikan dihargai pasen atau klien  serta sejawat) atau supervisor memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal yang dilakukan; (2) Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak bersedia memperhatikan martabat manusia sebagaimana mestinya.  

Tindakan (1) Gabungkan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan  sehari-hari; (2) Upayakan selalu konsisten untuk  menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi dan profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan.
Semakin disadari nilai-nilai  profesional maka semakin timbul nilai-nilai moral   yang dilakukan serta selalu konsisten untuk mempertahankannya. Bila dibicarakan dengan sejawat  atau pasen dan ternyata tidak sejalan, maka  seseorang  merasa  terjadi sesuatu yang  kontradiktif  dengan  prinsip-prinsip yang dianutnya yaitu; penghargaan terhadap martabat manusia yang tidak terakomodasi dan sangat mungkin  kita tidak lagi  merasa 
nyaman.  Oleh karena itu, klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana  kita  perlu meningkatkan serta konsisten bahwa keputusan yang diambil secara  khusus dalam kehidupan ini  untuk menghormati martabat manusia. Hal ini merupakan nilai-nilai positif  yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari dan dalam masyarakat luas.

PELAKSANAAN ETIK DAN MORAL DALAM PELAYANAN KLINIS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

Aplikasi dalam praktek klinis bagi perawat/bidan diperlukan untuk menempatkan  nilai-nilai  dan perilaku kesehatan  pada posisinya. Perawat/bidan bisa menjadi sangat frustrasi bila membimbing atau memberikan konsultasi kepada pasen yang mempunyai nilai-nilai dan perilaku kesehatan yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pasen kurang memperhatikan status kesehatannya. Pertama-tama yang dilakukan oleh perawat/bidan adalah berusaha  membantu pasen  untuk mengidentifikasi nilai-nilai dasar  kehidupannya sendiri.
 Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan kasus sebagai berikut: Seorang pengusaha yang sangat sukses dan mempunyai akses di luar  dan dalam negeri sehingga dia menjadi sibuk sekali dalam mengelola usahanya. Akibat kesibukannya dia sering lupa makan sehingga terjadi perdarahan lambung yang menyebabkan dia perlu dirawat di rumah sakit. Selain itu dia juga perokok berat sebelumnya.  Ketika kondisinya telah mulai pulih perawat berusaha mengadakan pendekatan untuk mempersiapkannya untuk pulang. Namun perawat menjadi kecewa, karena pembicaraan akhirnya mengarah pada keberhasilan serta kesuksesannya dalam bisnis. Kendati demikian upaya tersebut harus selalu dilakukan  dan kali ini perawat menyusun list pertanyaan dan mengajukannya kepada pasen tersebut. Pertanyaannya, “Apakah tiga hal yang paling penting  dalam kehidupan bapak dari daftar dibawah ini ?” Pasen diminta untuk memilih atas pertanyaan berikut:
1.      Bersenang-senang dalam kesendirian (berpikir, mendengarkan musik atau membaca).
2.      Meluangkan waktu bersama keluarga.
3.      Melakukan aktifitas seperti: mendaki gunung,  main bola atau berenang.
4.      Menonton televisi.
5.      Membantu dengan sukarela  untuk kepentingan orang lain.
6.      Menggunakan waktunya untuk bekerja.
Langkah berikutnya adalah  mengajaknya untuk mendiskusikan  prioritas yang dibuat berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya, dengan mengikuti klarifikasi nilai-nilai sebagai berikut:
1.      Memilih:  Setelah menggali aspek-aspek berdampak terhadap kesehatan pasen, misalnya stress yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktifitasnya, maka sarankan kepadanya memilih secara bebas nilai-nilai  kunci yang dianutnya. Bila dia memilih masalah kesehatannya, maka hal ini menunjukkan tanda positif.
2.      Penghargaan: Berikan dukungan untuk memperkuat keinginan pasen dan promosikan nilai-nilai tersebut dan bila memungkinkan dapatkan dukungan dari keluarganya. Contoh: istri dan anak anda pasti akan merasa senang bila anda memutuskan untuk berhenti merokok serta mengurangi kegiatan bisnis anda, karena dia sangat menghargai kesehatan anda.
3.      Tindakan: Berikan bantuan kepada pasen untuk merencanakan kebiasaan baru yang konsisten setelah memahami nilai-nilai pilihannya. Minta kepada pasen untuk memikirkan suatu cara bagaimana nilai tersebut dapat masuk dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang perlu diucapkan perawat/bidan kepada pasennya: “Bila anda pulang, anda akan menemukan cara kehidupan yang berbeda, dan anda menyatakan ingin mulai menggunakan waktu demi kesehatan anda”.

PERILAKU  ETIS PROFESIONAL

Perawat atau bidan memiliki komitmen  yang tinggi  untuk  memberikan asuhan yang berkualitas berdasarkan  standar perilaku yang  etis dalam praktek asuhan  profesional. Pengetahuan tentang  perilaku  etis dimulai dari  pendidikan  perawat atau bidan, dan berlanjut  pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau teman. Perilaku yang etis mencapai puncaknya   bila perawat atau bidan  mencoba dan mencontoh  perilaku   pengambilan keputusan yang etis  untuk membantu memecahkan masalah etika. 
Dalam hal ini, perawat atau bidan seringkali  menggunakan dua pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan pendekatan berdasarkan  asuhan keperawatan /kebidanan.

Pendekatan Berdasarkan Prinsip

Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat pendekatan prinsip  dalam etika biomedik antara lain; (1) Sebaiknya mengarah langsung untuk  bertindak sebagai penghargaan terhadap  kapasitas otonomi  setiap orang: (2) Menghindarkan berbuat suatu  kesalahan; (3) Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang  bermanfaat dengan segala konsekuensinya; (4) Keadilan menjelaskan tentang  manfaat dan resiko yang dihadapi.
Dilema etik  muncul ketika  ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab konflik  dalam bertindak. Contoh; seorang ibu  yang memerlukan biaya  untuk  pengobatan progresif  bagi bayinya  yang lahir  tanpa otak dan secara medis dinyatakan tidak akan pernah menikmati  kehidupan bahagia yang paling sederhana sekalipun.  Di sini terlihat adanya kebutuhan  untuk tetap menghargai  otonomi si ibu akan pilihan  pengobatan bayinya, tetapi dilain pihak  masyarakat berpendapat akan lebih adil bila pengobatan diberikan kepada bayi yang masih memungkinkan mempunyai harapan hidup yang besar. Hal ini tentu sangat mengecewakan  karena  tidak ada satu metoda pun yang mudah dan aman untuk menetapkan  prinsip-prinsip mana yang lebih penting, bila terjadi  konflik diantara kedua  prinsip yang berlawanan. Umumnya, pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik, hasilnya terkadang lebih  membingungkan. Hal ini  dapat mengurangi perhatian perawat atau bidan terhadap sesuatu yang  penting  dalam etika.

 Pendekatan  Berdasarkan Asuhan
                       
            Ketidakpuasan yang timbul dalam pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik  mengarahkan banyak perawat atau bidan untuk  memandang “care” atau asuhan sebagai fondasi  dan kewajiban moral. Hubungan perawat/bidan dengan pasen  merupakan pusat  pendekatan berdasarkan  asuhan, dimana memberikan langsung perhatian  khusus

kepada  pasen,  sebagaimana dilakukan  sepanjang kehidupannya sebagai perawat atau bidan. Perspektif asuhan memberikan arah dengan cara  bagaimana  perawat/bidan dapat membagi waktu untuk dapat duduk bersama dengan pasen atau sejawat, merupakan suatu kewajaran yang dapat  membahagiakan  bila  diterapkan berdasarkan etika. Karakteristik  perspektif dari asuhan meliputi : (1) Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan; (2) Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat  klien atau  pasen  sebagai  manusia; (3) Mau mendengarkan dan  mengolah   saran-saran dari orang lain sebagai dasar yang mengarah pada tanggung-jawab profesional; (4) Mengingat kembali  arti tanggung-jawab moral yang  meliputi kebajikan seperti:  kebaikan,  kepedulian, empati, perasaan kasih-sayang, dan menerima kenyataan. (Taylor,1993).

Asuhan juga memiliki tradisi memberikan  komitmen  utamanya terhadap pasen dan belakangan ini mengklaim  bahwa advokasi terhadap  pasen  merupakan salah satu  peran yang  sudah dilegimitasi sebagai peran dalam memberikan asuhan keperawatan/kebidanan. Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak-hak pasen. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat atau bidan, dalam menemukan kepastian  tentang  dua sistem pendekatan etika  yang dilakukan yaitu pendekatan  berdasarkan prinsip dan asuhan. Perawat atau bidan  yang  memiliki komitmen tinggi dalam mempraktekkan keperawatan profesional dan tradisi tersebut perlu mengingat hal-hal sbb: (1) Pastikan bahwa loyalitas staf atau kolega  agar tetap memegang  teguh  komitmen utamanya terhadap pasen; (2) berikan prioritas utama terhadap  pasen dan masyarakat pada umumnya; (3) Kepedulian mengevaluasi  terhadap kemungkinan  adanya klaim otonomi dalam  kesembuhan  pasen. Bila menghargai otonomi, perawat atau bidan harus memberikan  informasi yang akurat, menghormati dan mendukung  hak pasien dalam mengambil keputusan.



KESIMPULAN

Dalam upaya mendorong profesi keperawatan dan kebidanan agar  dapat diterima dan dihargai oleh pasien, masyarakat atau profesi lain, maka mereka harus memanfaatkan nilai-nilai keperawatan / kebidanan dalam menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam mengemban   peran profesionalnya. Dengan demikian  perawat atau bidan yang menerima tanggung jawab, dapat melaksanakan asuhan keperawatan atau kebidanan secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan pasen, penghormatan terhadap  hak-hak pasen,  akan berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan atau kebidanan


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar